MENAMBAH MINDSET MAHASISWA (CALON SARJANA)
SEBAGAI JOB CREATOR
Oleh: Iwan Fakhruddin, SE, M.Si
Menarik sekali tulisan pada suara merdeka 9 Januari 2009 dengan judul ”Pengangguran Sarjana, Kesalahan PT?”. Dan memang benar uraian Dekan Fakultas Ekonomi Unika Soegijapranata Dr Andreas Lako, setidaknya ada 3 faktor yang memengaruhi tingginya pengangguran mahasiswa. Pertama adalah faktor eksternal, yaitu menyempitnya lapangan kerja yang ada, pesatnya lulusan PT (perguruan tinggi tidak diimbangi dengan permintaan dari dunia usaha. Kedua dari PT, kebanyakan PT tidak mempersiapkan para lulusan untuk memiliki kompetensi yang memadai dan menjadikan mahasiswa mandiri. Ketiga adalah faktor internal, yaitu dari sarjana itu sendiri, ketika kuliah mereka justru tidak memanfaatkan waktu untuk mengambil ilmu semaksimal mungkin.Tentunya perlu adanya peran PT terhadap perubahan lingkungan yang mendukung terhadap kesiapan mahasiswa agar lebih mandiri. Karakter entrepreneurship merupakan hal yang perlu dimiliki oleh kalangan civitas akademika, Termasuk mahasiswa. Berbagai cara untuk memfasilitasi bertumbuh kembangnya entrepreneurship. Salah satu kata kunci berkembangnya entrepreneurship adalah pendidikan entrepreneurship (entrepreneurship education). World Economic Forum di Davos, April 2009 lalu, melahirkan rekomendasi kepada pemerintahan di seluruh dunia untuk melakukan pendidikan entrepreneurship di semua jenjang pendidikan sampai PT. Menurut Prof Dr Mohammad Ali (2009), salah satu hal penting bidang pendidikan yang harus ditangani dalam mengatasi pengangguran di Indonesia adalah masalah relevansi pendidikan. Salah satu tantangan pendidikan tinggi Indonesia saat ini adalah bagaimana merubah paradigma berfikir lulusan dari job seeker kepada job creator ditengah pertumbuhan ekonomi yang rendah dan ketersedian lapangan pekerjaan yang terbatas. Ada tiga watak penting yang menjadi penanda seorang wirausaha yaitu individu yang mampu menciptakan kesempatan (opportunity creator), mampu menciptakan hal-hal atau ide-ide baru yang orisinal (innovator) dan terakhir harus berani mengambil resiko dan mampu mengitungnya (calculated risk taking). Entrepreneurship ini bukanlah sesuatu yang tidak bisa dipelajari, PT adalah salah satu tempat yang paling pas untuk melakukan pendidikan kewirausahaan.
Entrepreneurial Intention (Intensi Berwirausaha)
Pengaruh pendidikan kewirausahaan telah dipertimbangkan sebagai salah satu faktor penting untuk menumbuhkan dan mengembangkan hasrat, jiwa dan perilaku berwirausaha di kalangan generasi muda (Kourilsky dan Walstad, 1998). Salah satu cara yang dilakukan adalah membentuk Entrepreneurial Intention (Intensi Berwirausaha) pada mahasiswa. Indarti (2004) mengemukakan bahwa ada tiga faktor yang mempengaruhi Entrepreneurial Intention mahasiswa yaitu 1) faktor kepribadian yaitu kebutuhan akan prestasi dan efikasi diri; 2) faktor lingkungan, dilihat pada tiga elemen kontekstual yaitu akses kepada modal, informasi dan jaringan sosial, 3) faktor demografi yaitu jender, umur, latar belakang pendidikan dan pengalaman bekerja.
Perlunya dukungan Entrepreneurial Inzdvtention mahasiswa
Ketiga faktor tersebut harus didukung oleh berbagai pihak, yang merasa berkepentingan dan punya niat untuk mendorong generasi muda terdidik dapat merubah image sebagai joob seeker menjadi job creator. Dirjen Dikti Depdiknas bekerjasama dengan Universitas Ciputra Entrepreneurship Centre melakukan kerjasama training of trainer (TOT) bagi 1.600 dosen dari seluruh Indonesia untuk mendukung program Pengembangan Kewirausahaan Mahasiswa (PKM) Dikti. Apa yang dilakukan Dikti tersebut harus didukung implementasi secara konkrit di level PT bahkan sampai level program studi. Implementasi yang dapat dilakukan adalah disusunnya kurikulum yang berbasiskan entrepreneurship. Kurikulum ini bukan hanya memberikan pemahaman teori yang benar tentang entrepreneurship tetapi juga didukung aplikasi selayaknya dunia entrepreneurship. Terutama mahasiswa diperkenalkan pada faktor yang mempengaruhi entrepreneurship yang berhubugnan dengan faktor lingkungan.
Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Purwokerto UMP). Dalam acara Temu Dekan Fakultas Ekonomi PTM se Indonesia di kampus UMP, Dekan FE UMP menandatangani MoU dengan BNI 1946 kantor cabang Purwokerto (Suara Merdeka, 26 Desember 2009). Dalam MoU ini bank menyediakan plafound dari dana Corporate Social Responsibility-nya sebesar Rp. 500.000.000,00 yang dapat diakses kelompok mahasiswa. Setiap kelompok mahasiswa dapat diberikan maksimal pembiayaan sebesar Rp. 10.000.000,00. Teknis pembuatan proposal usaha, pengajuan kredit dan pengeloalan usaha kelompok mahasiswa dilakukan dengan dosen pendamping. Dalam pendampingan ini kelompok usaha mahasiswa juga diperkenalkan praktek pencarian dan penyebaran informasi usaha serta pembentukan jarigan sosial.
